Setiap orang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Arti pemimpin sendiri nggak selalu ke arah manajerial besar, melainkan segala aspek. Mulai dari yang besar, misalnya seorang Presiden, pemimpin perusahaan, pemimpin organisasi, pemimpin gerakan, hingga yang kecil seperti memimpin kelas kuliah, keluarga, dan diri sendiri. Setiap kepemimpinan ada tim, bahkan dalam memimpin diri sendiri. Bukankah seluruh anggota tubuh kita adalah sebuah tim? Nurani (akal sehat dan perasaan) adalah pemimpinnya.

Kali ini saya mau menuangkan pemikiran saya tentang menjadi seorang pemimpin atau leader. Hal apa aja yang harus ada di dalam diri kita sebagai leader untuk membawa kepemimpinan, menunjukkan arah, serta membimbing anggota. Semuanya saya kemas dalam format universal, yang artinya bisa aja diterapkan di berbagai aspek kehidupan.

Jadi, berikut ini pemikiran saya tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang saya dapatkan dari berbagai case dalam kehidupan saya.

1. Menguasai bidang yang dikelola

Ini adalah hal yang paling basic. Tentu seorang pemimpin yang punya tanggung jawab untuk membawa kesuksesan harus paham betul tentang bidang yang dikelola. Mau sukses sekolah, kuasai mata pelajarannya agar lulus ujian. Mau sukses jualan, kuasai tata cara berjualan dengan berguru dari berbagai sumber. Mau sukses di bidang olah raga, kuasai cara bermain yang baik. Dan seterusnya. Wawasan ini akan sangat berguna untuk membuat rencana mau dibawa kemana timnya. Bagaimana seorang pemimpin yang nggak punya capability di bidang yang dikelola? Udah pasti, nggak akan akurat dari mulai membuat rencana, nggak pandai dalam melakukan eksekusi dan juga akan berantakan mengelola anggota tim. Untuk itu, sangat wajib seorang pemimpin memperluas wawasan dengan berbagai kegiatan, seperti membaca buku, berdiskusi dan belajar langsung dengan yang lebih ahli, dan lain sebagainya.

2. Menjadi contoh

Ada leader ada follower, dan sebagaimana artinya seorang follower adalah pengikut. Mungkin semula kita bisa meminta anggota tim untuk berperan dengan baik sesuai perintah, tapi lama-lama mereka akan berpikir kenapa mereka harus berperan dengan baik sementara pemimpinnya nggak melakukan hal yang sama, malah cenderung bersikap sebaliknya alias nggak perform? Seiring dengan berjalannya waktu mereka pun akan berubah, dan kalo sudah kejadian akan sangat susah lagi untuk memperbaiki culture organisasi. Untuk itu, detik ketika kita menjadi seorang pemimpin, maka detik itu juga kita harus selalu menjadi contoh baik sebagaimana yang kita harapkan anggota tim kita juga melakukan.

3. Memberikan tantangan bukan melepas tangan

Dua hal ini sangat berbeda. Memberikan tantangan artinya mendelegasikan tugas yang lebih berat dari sebelumnya namun juga memberikan arahan, dan tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi anggota tim. Melepas tangan adalah mendelegasikan tugas sepenuhnya ke tim karena pemimpinnya nggak mau capek dan ngurusin alias bersikap bodo amat. Apalagi setelah melepas tangan, ditambah sikap yang melimpahkan kesalahan ke anggota tim. Ini 100% akan menghilangkan rasa hormat dan kepercayaan anggota tim. To bad to be true, tapi ini sering terjadi. Intinya, seorang anggota tim udah sewajarnya mengharapkan bimbingan dari leader, dan berharap selalu dapet ilmu baru, bukan sekedar beban baru.

4. Menyelamatkan, bukan menjatuhkan anggota team

Melanjutkan poin sebelumnya. Apa yang dilakukan seorang pemimpin jika mendapat teguran karena timnya dinilai tidak perform atau melakukan kesalahan? Selalu ada dua sikap pemimpin dalam hal ini. Yang pertama adalah mengakui kesalahan dan mengemban tanggung jawab sebagai seseorang yang mengelola timnya, sehingga adanya kesalahan nggak terlepas dari peran dan kontrol pemimpinnya. Yang ke-dua, pemimpin yang merasa sudah “bekerja dengan baik sendiri” sementara timnya yang dinilai bekerja belum maksimal, sehingga kesalahan yang terjadi murni kesalahan timnya, bukan kesalahan pemimpinnya. Seorang pemimpin yang baik harus sadar bahwa tidak akan menjadi seorang pemimpin jika nggak ada anggota tim. Maka dari itu, kekompakan dalam tim perlu dijaga dengan saling membantu dan melindungi, bukan menjatuhkan. Adapun jika memang salah satu anggota tim yang melakukan kelalaian, maka diperlukan evaluasi secara personal, bila perlu dilakukan peringatan bahkan pemecatan.

5. Menunjukkan bahwa kepemimpinan itu ada

Terkadang ada seorang pemimpin yang ingin di dalam organisasi yang dia pimpin, semua anggota punya peran yang sama sebagai pemimpin, sehingga segala hal dia misyawarahkan ke tim. Maksudnya baik, agar semua anggota tim punya jiwa kepemimpinan dan inisiatif. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah; pertama, nggak semua anggota tim sudah punya “panggilan” untuk menjadi seorang pemimpin. Ke-dua, banyak dari anggota tim mendambakan sebuah kepemimpinan, arahan, dan pengen punya seseorang yang dijadikan role model. Jadi jika memang kita seorang leader, maka berperan lah selayaknya seorang leader, memimpin segala sesuatu, minta laporan dan periksa segala pekerjaan tim, berikan evaluasi kinerja tim, dan seterusnya hingga melahirkan leader baru.

6. Jangan minder/ merasa kalah dengan skill tim

Nggak selalu seorang leader lebih pintar, lebih cerdas, lebih skillful dan lebih menguasai bidang apapun dibanding anggota team-nya. Begitu juga dengan anggota team, sering kali lebih hebat dibanding leadernya. Sebuah masalah? Enggak, ini hal yang lumrah dan biasa aja. Seseorang dipilih menjadi seorang leader mesti ada alasannya. Bisa jadi, lebih pengalaman, lebih paham best practice, lebih memiliki network, lebih bijaksana, lebih stabil emosinya dan seterusnya. Memiliki tim yang skillful adalah sebuah anugerah, jadi nggak perlu capek-capek mengajari banyak hal, mereka sudah bisa sendiri, bahkan leader-nya bisa belajar dari anggota timnya. Alih-alih merasa minder atau merasa kalah, sang leader bisa berpartner dengan timnya.

7. Komunikasi terbuka

Setiap leader pasti ingin timnya mengeksekusi tugas dengan baik, bahkan zero mistake. Untuk itu sebagai leader juga mesti men-deliver informasi dengan jelas, mulai dari memberikan brief tentang purpose, latar belakang, hal yang mesti dilakukan, bentuk pelaporan yang diharapkan, dan seterusnya. Yang mesti lapor bukan hanya tim, tapi juga sebagai leader harus rutin memberikan update tentang progress project yang sedang dikelola, karena bisa aja itu berkaitan atau ada dampaknya kepada apa yang juga dikerjakan oleh tim. Yang paling penting dalam komunikasi terbuka ini adalah agar nggak miskomunikasi, saling tunggu, dan akhirnya progress jadi lambat.

Menurut saya, kepemimpinan adalah sebuah seni. Makanya setiap orang bisa meng-claim gaya kepemimpinan yang berbeda, sama halnya seperti seni, setiap seniman punya selera yang berbeda. Bedanya, setiap seni memiliki pasarnya sendiri, sementara setiap organisasi punya cara kepemimpinannya sendiri. Untuk itu, kita sebagai pemimpin yang harus bisa mencocokkan gaya kepemimpinan dimana kita berada. Gaya kepemimpinan kita di kantor, tentu nggak bisa dibawa ke dalam sebuah organisasi non profit atau komunitas. Begitu juga dalam berkeluarga, ada gaya kepemimpinan tersendiri untuk bisa sukses.

Categories: Artikel

1 Comment

waw · June 19, 2020 at 2:01 AM

aaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *