Akhir-akhir ini ramai banget pembahasan di dunia maya tentang banyaknya orang yang dianggap sukses, namun diduga berkat adanya privilese atau hak istimewa. Mulai dari berita Presiden Jokowi menunjuk Putri Tanjung sebagai staf khusus presiden, kisah sukses anak muda umur 27 tahun yang jadi rektor, Maudy Ayunda bingung milih pendidikan S-2 karena diterima di Harvard dan Stanford.

“Putri Tanjung gampang jadi staf khusus presiden karena bapaknya salah satu orang terkaya.”

“Ya jelas aja umur 27 tahun bisa jadi rektor, kan kampusnya punya bapaknya.”

“Wajar kalo Maudy sukses, dia dibesarkan dalam keluarga kaya dan punya perencanaan pendidikan yang matang sejak lahir.”

Begitu lah kira-kira komentar netizen menanggapi berita tersebut, dan masih banyak lagi case orang sukses dengan privilese lainnya yang kalo dibahas pasti nggak akan ada habisnya.

Sebenarnya banyak jenis privilese atau hak istimewa yang seseorang miliki, seperti privilese fisik (sempurna dan tampan/cantik), privilese ras (etnisitas), privilese sosial-ekonomi, privilese memiliki agama mayoritas, privilese jenis kelamin, dan hal-hal lainnya yang bisa mempermudah jalan — atau mengurangi beban — hidup seseorang.

Privilese artinya ada sistem yang tak adil, yang memberikan keuntungan bagi seseorang dibandingkan yang lain, meskipun mereka memiliki potensi yang sama.

Uly Siregar

“Privilege adalah keuntungan yang kamu punya yang seringnya tak kamu pikirkan karena you’re either born with it and or you don’t have to experience being on the oppresive side.”

@amrazing

Terus-menerus menjadikan soal privilese sebagai pembenaran untuk memaafkan diri bahwa kita nggak bisa sukses seperti mereka, menurut saya juga adalah sebuah kesalahan. Baik itu akan mendemotivasi diri kita, juga cenderung membuat kita nggak bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Untuk menyikapi soal kesuksesan dan privilese ini, setidaknya ada 3 hal dasar yang kita perlu kita refleksikan.

Iya, privilege matters

Mau nggak mau, kita perlu akui bahwa privilese memang mampu “mempromosikan” seseorang untuk sukses. Inget, hanya “mempromosikan”, sehingga bisa jadi seseorang tinggal selangkah lagi menuju kesuksesan, tinggal dibarengi dengan usaha yang konsisten. Namun di balik itu, masih ada kok faktor yang memungkinkan kesuksesannya gagal, misalnya tiba-tiba menjadi kriminal dengan memakai narkoba, atau hal-hal negatif lainnya yang bisa mematikan karir dan masa depannya.

Pandang “kesuksesan” itu sebagai hal relatif

Kalo kita memiliki pandangan bahwa kesuksesan hanya milik orang-orang dengan privilese, kita akan cenderung merasa demotivasi sehingga nggak berani bermimpi tinggi. Terlepas dari bagaimana pun cara dan ceritanya, tentu ada juga — meskipun sedikit — orang tanpa privilese yang bisa sesukses orang dengan privilese. Namun di samping itu kita perlu memandang kesuksesan itu sebagai hal yang relatif, di mana nggak selalu harus tentang uang dan kekayaan (finansial), nggak selalu harus tentang pendidikan yang tinggi, dan hal lainnya. Artinya definisi kesuksesan itu sangat luas, nggak bisa dibakukan pada satu variabel aja.

Kata “sukses” atau dalam bahasa inggris “success” memiliki arti “the accomplishment of an aim or purpose” yang artinya “pemenuhan suatu maksud atau tujuan”. Jadi bisa diartikan bahwa “setiap kita punya maksud dan tujuan — baik besar maupun kecil, baik jangka pendek maupun jangka panjang —, kemudian kita mengupayakan itu, dan akhirnya maksud dan tujuan tersebut tercapai, maka sudah bisa diartikan sebagai sebuah kesuksesan.

Raeni, seorang anak tukang becak dari Kendal, Jawa Tengah yang mendapat beasiswa S3 di Universitas Birmingham Inggris. Sebelumnya ia juga berhasil menjadi lulusan terbaik di Pendidikan Akutansi, Fakultas Ekonomi, Unnes dengan IPK 3,96. Selain itu ada juga kisah Mbah Soman, tukang becak asal Bangkalan, Madura berpenghasilan Rp20ribu per hari yang berhasil menunaikan ibadah haji di usia ke-79 dari hasil menyisakan pendapatannya.

Kita mungkin bermain di layer yang berbeda

Dalam hal kesuksesan, saya, anda, dan siapa pun, nggak bisa saling dibandingkan dan dilombakan satu dengan yang lainnya. Misalnya, kalau seseorang mampu menjadi pengusaha sukses di usia 20an, bukan berarti setiap orang yang lainnya juga mesti mampu mencapai posisi tersebut di usia yang sama.

Karena perbedaan variabel privilese — dan ada pula yang dianggap tanpa privilese —, sehingga menurut saya setiap orang memiliki layer atau lintasan masing-masing. Setiap orang yang berada di masing-masing layer atau lintasannya memiliki maksud dan tujuan (goals) yang berbeda, cara usaha yang berbeda, pengalaman yang berbeda, dan kondisi yang berbeda untuk mencapai kesuksesan.

Secara finansial, yang pasti setiap orang berusaha untuk membuat agar kehidupannya di masa depan lebih layak dan sejahtera, dan selama ini terwujud sudah bisa dikatakan sukses.

Seorang anak pemulung sekalipun misalnya, ketika dewasa kemudian bekerja di pabrik, mendapat penghasilan sejumlah UMP, kemudian mampu memenuhi kebutuhan pokok seperti makanan dan tempat tinggal yang lebih layak, juga sudah bisa dikatakan sukses.

Berbeda ceritanya dengan anak yang terlahir dari orang kaya, tentu punya cita-cita yang lebih tinggi, dan bisa dikatakan sukses jika bisa membawa kekayaan keluarganya lebih meningkat.

Sama halnya untuk sudut pandang pendidikan, ketika seseorang mampu naik tingkat ke tingkat berikutnya, juga bisa dikatakan sukses. Dapat dibarengi dengan nilai ujian yang tinggi atau mempertahankan nilai yang sudah bagus, juga bisa disebut sukses. Begitu juga dengan hal-hal yang lainnya.

Beberapa gambaran di atas hanyalah contoh semata. Seperti yang sudah kita bahas di atas bahwa kesuksesan adalah hal yang relatif, dan setiap orang bermain di lintasannya masing-masing, sehingga sangat banyak faktor saling mempengaruhi perjalanan seseorang. Terlepas dari semua itu, nggak ada teori yang menyatakan bahwa orang tanpa–atau tidak banyak–privilese nggak bisa sukses, dan orang dengan banyak privilese pasti akan selalu sukses. Anyway, setiap orang–dengan segala privilese yang dimiliki–punya tuntutan dan tanggung jawabnya masing-masing.

Jadi, fokuslah dengan apa yang ada pada diri kita. Tolak ukur kesuksesan itu bagi saya adalah bagaimana kita membuat diri kita di masa depan lebih baik dari saat ini, dan bagaimana kita bisa menciptakan versi terbaik dari diri kita. Baik orang dengan banyak privilese maupun dengan keterbatasan privilese, semua memiliki perjuangannya masing-masing.

Categories: Artikel

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *